![]() |
| Ilustrasi |
Perkembangan teknologi digital mendorong penggunaan gadget makin meningkat dengan sangat pesat di seluruh dunia. Total penggunaan gadget secara global mencapai 5,3 miliar pengguna pada 2024 (Putri et al., n.d.). Peningkatan masif ini menimbulkan kekhawatiran, karena durasi penggunaan yang panjang berkaitan erat dengan perubahan pola berpikir, perilaku, dan preferensi stimulasi otak remaja (Demelia K. Nuramadan, 2023). Demikian pula, menurut data Newzoo, Indonesia menempati peringkat keempat dunia untuk pengguna smarthphone, dengan 192,15 juta pengguna pada tahun 2022 (Sadya, 2023).
Data terbaru, berdasarkan jajak pendapat APJII 2023, menunjukkan bahwa penggunaan smartphone tertinggi di kalangan remaja berusia 13-18 tahun, mencapai 98,20% (Marini et al., 2024). Masa remaja sendiri merupakan fase transisi yang ditandai perubahan fisik, emosional, dan psikologis, sehingga membuat mereka lebih sensitif terhadap pengaruh lingkungan dan pencarian pengalaman baru. Kondisi ini menjadikan remaja lebih rentan terhadap penggunaan gadget berlebih, terlihat dari gejala seperti sulit mengontrol screen time, mudah gelisah, serta kecenderungan memilih hiburan cepat (Arief et al., n.d.).
Studi ini melakukan kajian pustaka dengan menelaah jurnal, survei, dan penelitian tentang kecanduan gadget pada remaja yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025. Data tersebut dikaji secara tematis untuk menggabungkan temuan tentang dopamin, neuroplastisitas, dan efek psikologis, sehingga menghasilkan pemahaman yang jelas tentang mekanisme molekuler di balik kecanduan gadget (Poisson et al., 2021).
Menurut Nature Neuroscience, dopamin adalah neurotransmitter yang berperan dalam rasa senang dan regulasi emosi. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget meningkatkan kadar dopamin di jalur mesolimbik, sehingga menurunkan kendali impuls remaja dan mendorong keinginan untuk kepuasan cepat. Paparan berulang kali dapat merusak neuroplastisitas, menurunkan fokus dan motivasi, serta meningkatkan kecemasan dan gangguan sosial. Waktu menonton gadget, olahraga, dan pembatasan sumber dopamin instan merupakan beberapa perawatan yang direkomendasikan (Azhar, 2023).
Dalam kajian neurosains, penggunaan gadget yang berulang berkaitan erat dengan aktivasi sistem penghargaan otak, khususnya pelepasan dopamin (Fransiska et al., 2022). Setiap kali remaja menerima notifikasi, seperti pesan baru, like, atau konten menarik, hal ini dapat memicu otak agar melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang. Proses ini bekerja melalui sistem dopamin mesolimbik, yang meliputi Nukleus Akumbens (NAcc), Area Tegmental Ventral (VTA), dan Korteks Prefrontal (PFC) (Randal A. Serafini, 2021). Otak prefrontal remaja belum sepenuhnya matang, sehingga kapasitas mereka untuk mengendalikan impuls dan membuat keputusan jangka panjang terbatas. Akibatnya, remaja lebih mungkin terjebak dalam pola perilaku berulang yang memicu "perangkap dopamin" (Vera Fauziah Fatah, 2022).
Kecanduan gadget pada remaja dapat dipahami sebagai suatu bentuk kecanduan perilaku yang beroperasi melalui sistem aktivasi penghargaan otak. Ketika remaja menerima notifikasi, melihat konten yang menarik, atau memenangkan permainan, otak mereka melepaskan neurotransmiter dopamin, yang menciptakan rasa senang dan memotivasi perilaku berulang (Malizal, 2025). Mekanisme ini terjadi pada jalur dopamin mesolimbik, yang meliputi Area Tegmental Ventral (VTA), Nukleus Akumben (NAcc), dan Korteks Prefrontal (PFC). Area Korteks Prefrontal (PFC) pada remaja terus mendingin hingga sekitar usia 25 tahun. Akibatnya, pengendalian diri dan kemampuan menahan impuls belum sepenuhnya matang, sehingga risiko perilaku obsesif terhadap gadget meningkat (Elfa et al., 2025).
Salah satu penelitian empiris yang memperkuat pemahaman ini adalah studi longitudinal yang diterbitkan dalam Journal of Education Circle Pagia & Wahyuni (2024), menunjukkan bahwa remaja pengguna berat media sosial secara intens mengalami peningkatan gejala depresi hingga 40% dibandingkan dengan kelompok yang penggunaan gadget nya terbatas. Temuan ini sejalan dengan studi terbaru oleh Selian (2025), yang menunjukkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan motivasi akademik (Selian et al., 2025).
Selain sistem reward, neuroplastisitas merupakan faktor penting dalam menjelaskan perubahan otak akibat penggunaan gadget. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak membangun dan memperkuat jaringan saraf melalui kebiasaan yang berulang. Remaja yang terus menerus terpapar informasi cepat, seperti film pendek, multitasking digital, atau menggulir layar dalam waktu lama, akan mengembangkan pola koneksi saraf yang mengubah preferensi mereka terhadap stimulasi instan (Melzer et al., 2023).
Kondisi memengaruhi fungsi Korteks Prefrontal (PFC), bagian otak yang bertanggung jawab atas pengendalian emosi, konsentrasi, dan pengambilan keputusan. Akibatnya, kapasitas perhatian berkelanjutan terganggu, sehingga remaja lebih cepat kehilangan minat pada tugas-tugas yang membutuhkan fokus panjang. Dampaknya dapat terlihat pada kesulitan belajar, penurunan motivasi akademik, dan kecenderungan memilih aktivitas yang memberi imbalan cepat (Slattery et al., 2022).
Dampak ketergantungan gadget ini muncul pada aspek kognitif, emosional, dan sosial. Secara kognitif, remaja mudah teralihkan, sulit berkonsentrasi, dan memiliki daya ingat jangka pendek yang buruk. Penggunaan gadget yang berlebihan (lebih dari tiga jam per hari) dapat mengindikasikan kecanduan (Indriyani et al., 2024). Secara emosional, penggunaan gadget yang berlebihan dapat memicu iritabilitas, kecemasan, atau stres ketika aksesnya terganggu (Afidah et al., 2022).
Secara sosial, semakin banyak remaja yang menunjukkan kecenderungan menarik diri dari interaksi langsung dan lebih nyaman berada di ruang digital (Fitrifitria, 2020). Pola ini memperkuat ketergantungan pada dopamin instan karena dunia digital menyediakan hiburan cepat, validasi sosial, dan pengalaman emosional yang tidak selalu tersedia dalam kehidupan nyata.
Untuk mengatasi pola ketergantungan digital, pendekatan berbasis neurosains perlu diterapkan. Salah satu strategi yang banyak di bahas adalah “dopamine detox” metode yang diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Dr. Cameron Sepah dari ilmu terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy). Inti dari metode ini adalah menunda atau membatasi akses pada sumber dopamin instan. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari yang sebelumnya terasa kurang menarik dapat kembali memberikan rasa kepuasan. Selain itu, penguatan fungsi Korteks Prefrontal (PFC) dapat dilakukan melalui aktivitas seperti olahraga, meditasi, interaksi sosial langsung, serta pembatasan multitasking digital, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan kontrol diri dan fokus (Sukma, 2023).
Afida dkk. (2022) melakukan penelitian signifikan tentang penggunaan gadget di kalangan remaja, dengan fokus pada dampak perilaku dan kognitifnya. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada variabel eksternal, alih-alih mekanisme biologis yang mendorong kecanduan. Penelitian ini berbeda karena mengkaji kecanduan gadget dari perspektif neurobiologis, terutama keterlibatan sistem dopamin dan perubahan neuroplastisitas, sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana penggunaan gadget secara berulang dapat membentuk pola adiktif pada remaja.
Ketergantungan gadget pada remaja bukan sekadar masalah kebiasaan, melainkan berkaitan langsung dengan mekanisme biologis otak, khususnya sistem reward berbasis dopamin dan pola neuroplastisitas yang terbentuk oleh penggunaan berulang.
Perubahan pada area seperti Korteks Prefrontal (PFC) dan Nukleus Akumbens (NAcc) membawa dampak nyata pada perilaku, emosi, dan kemampuan kognitif remaja. Dengan memahami proses ini penting agar kita dapat melihat ketergantungan gadget sebagai fenomena neurobiologis yang membutuhkan pendekatan ilmiah dalam penanganannya. Oleh karena itu, intervensi yang menekankan regulasi dopamin, pembiasaan aktivitas sehat, serta penguatan kontrol diri menjadi sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang pada perkembangan otak.
Penulis: Izza Malika Yusro Diniyah
Penulis: Izza Malika Yusro Diniyah
