Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok telah menjelma menjadi salah satu platform paling dominan di dunia digital, khususnya di kalangan generasi muda. Dengan format video singkat yang cepat, menarik, dan mudah dikonsumsi, TikTok berhasil merebut perhatian jutaan pengguna setiap hari. Namun di balik popularitas tersebut, muncul kekhawatiran serius: apakah TikTok berkontribusi terhadap menurunnya tingkat literasi?
Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, dan berpikir kritis terhadap informasi. Dalam konteks ini, kebiasaan mengonsumsi konten berdurasi sangat pendek—seperti yang ditawarkan TikTok—berpotensi menggeser pola pikir masyarakat dari yang mendalam menjadi serba instan.
Salah satu ciri utama TikTok adalah algoritmanya yang sangat adiktif. Pengguna disuguhi konten tanpa henti sesuai preferensi mereka, sehingga mendorong kebiasaan scrolling yang terus-menerus. Akibatnya, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca buku, artikel, atau sumber pengetahuan lain menjadi tersita oleh hiburan singkat yang cenderung dangkal.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan daya tahan seseorang dalam membaca teks panjang dan kompleks.
Selain itu, konten di TikTok umumnya menekankan visual dan audio yang cepat, bukan narasi yang mendalam. Informasi disampaikan secara ringkas, bahkan terkadang terlalu disederhanakan. Ini bisa menimbulkan pemahaman yang parsial atau bahkan keliru, karena tidak semua topik dapat dijelaskan secara utuh dalam durasi singkat. Ketika pengguna terbiasa dengan informasi instan, mereka cenderung enggan menggali lebih jauh melalui bacaan yang lebih serius.
Namun, menyalahkan TikTok sepenuhnya juga tidak adil. Platform ini pada dasarnya hanyalah alat. Di dalamnya juga terdapat konten edukatif yang kreatif dan informatif, mulai dari pembelajaran bahasa, sejarah, hingga sains. Banyak kreator yang memanfaatkan TikTok untuk meningkatkan minat belajar dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses. Artinya, TikTok juga memiliki potensi untuk menjadi sarana peningkatan literasi—jika digunakan dengan bijak.
Permasalahan utama terletak pada pola konsumsi dan kontrol diri pengguna. Tanpa kesadaran dan batasan, pengguna akan lebih mudah terjebak dalam konten hiburan daripada konten edukatif. Di sinilah peran penting keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam membangun budaya literasi yang kuat, serta memberikan edukasi digital kepada masyarakat.
Pada akhirnya, TikTok bukanlah penyebab tunggal turunnya literasi, tetapi ia menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan perilaku membaca di era digital. Tantangan kita bukan sekadar menjauhi teknologi, melainkan bagaimana menggunakannya secara cerdas. Literasi di abad ke-21 tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang kemampuan memilah informasi di tengah arus konten yang tak terbendung.
Jika tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca yang kuat, maka generasi masa depan berisiko kehilangan kedalaman berpikirnya. Namun jika dimanfaatkan dengan tepat, TikTok justru bisa menjadi pintu masuk menuju dunia literasi yang lebih luas.
Penulis: Robith Fahmi
