Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Opsi Penutupan Prodi Bukan Solusi

Kamis, Mei 07, 2026 | Mei 07, 2026 WIB Last Updated 2026-05-07T11:55:45Z

 


Di negeri ini, ada banyak hal yang gampang sekali ditutup. Jalan ditutup karena ada hajatan. Kolom komentar ditutup karena kebanyakan debat. Bahkan hati juga kadang ditutup karena terlalu sering disakiti. Maka tidak heran, ketika sebuah program studi sepi peminat atau dianggap tidak produktif atau lulusannya oversupply solusi yang muncul sering kali sederhana: tutup saja. Praktis. Cepat. Tidak banyak rapat. Padahal dunia pendidikan tidak sesederhana warung fotokopi yang bisa gulung tikar lalu besok berubah jadi counter pulsa.


Belakangan ini, isu penutupan prodi muncul seperti notifikasi pinjol: sering datang dan nadanya mengkhawatirkan. Alasannya macam-macam. Ada yang karena minim mahasiswa, ada yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri, ada pula yang sekadar kalah pamor dengan jurusan-jurusan yang terdengar lebih “masa depan”, seperti data science, bisnis digital, energi, hilirisasi atau apa pun yang ada kata “digital”-nya supaya terlihat mahal.

Sementara itu, beberapa prodi lain mulai dipandang seperti kaset pita di era Spotify—masih ada, tapi dianggap kuno.
Lucunya, kita ini kadang terlalu cepat mengukur nilai pendidikan dari seberapa mudah alumninya dipamerkan di LinkedIn. Seolah-olah tujuan kuliah hanya untuk menghasilkan manusia yang bisa menjawab pertanyaan HRD dengan percaya diri sambil bilang, “Saya mampu bekerja di bawah tekanan.”

Padahal pendidikan mestinya bukan sekadar pabrik tenaga kerja. Ia juga ruang untuk menjaga pengetahuan tetap hidup. Bayangkan kalau semua hal diukur berdasarkan untung-rugi pasar, mungkin jurusan filsafat sudah lama berubah jadi gudang skincare, dan sastra daerah tinggal kenangan di papan nama jalan.

Ada kecenderungan hari ini bahwa sesuatu yang tidak menghasilkan uang cepat dianggap beban. Termasuk program studi. Kampus akhirnya seperti dipaksa berpikir ala minimarket: mana yang laku dipajang di depan, mana yang sepi dipindah ke belakang, dan mana yang tidak laku sekalian ditutup.

Masalahnya, pendidikan tidak bisa memakai logika cuci gudang. Karena kalau semua prodi harus tunduk pada tren pasar, kita akan menghasilkan lulusan yang seragam. Semua ingin jadi entrepreneur, content creator, atau minimal social media specialist. Tidak ada yang salah, tentu saja. Tapi bangsa juga butuh peneliti, budayawan, guru bahasa daerah, ahli sejarah, dan orang-orang yang pekerjaannya mungkin tidak viral tapi penting.

Kita terlalu sering lupa bahwa sesuatu bisa penting meski tidak ramai. Prodi yang sepi bukan selalu berarti gagal. Kadang ia hanya kurang didukung, kurang dipromosikan, atau memang hidup di zaman yang terlalu sibuk mengejar hal-hal instan. Sama seperti perpustakaan: sunyi bukan berarti tidak berguna.

Lagipula, kalau solusi setiap masalah adalah penutupan, lama-lama kampus hanya akan berisi jurusan-jurusan yang sedang tren. Pendidikan tinggi berubah seperti halaman FYP—apa yang ramai dipertahankan, apa yang sepi ditenggelamkan. Padahal tren punya sifat dasar: cepat berubah. Hari ini AI. Besok entah apa lagi. Kalau kampus terlalu sibuk mengejar pasar tanpa mempertahankan fondasi keilmuan, akhirnya pendidikan hanya menjadi industri yang panik terhadap statistik.

Yang perlu dicari sebenarnya bukan alasan untuk menutup prodi, tapi cara agar prodi tetap relevan tanpa kehilangan jiwanya. Kurikulum bisa diperbarui, pendekatan belajar bisa diperbaiki, kolaborasi bisa diperluas. Karena masalah utama sering kali bukan ilmunya yang usang, melainkan cara kita memperkenalkannya yang kalah menarik dibanding iklan cashback e-commerce.

Pendidikan tidak selalu harus bising untuk berarti. Dan mungkin, di tengah zaman yang semua serba cepat ini, mempertahankan sebuah prodi adalah bentuk keberanian untuk percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu harus tunduk pada grafik peminat dan kebutuhan industri.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update