Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rupiah Melemah, Syahwat Berkuasa Tetap Tinggi

Kamis, Mei 07, 2026 | Mei 07, 2026 WIB Last Updated 2026-05-06T17:28:33Z

 


Di negeri ini, nilai tukar rupiah itu seperti perasaan mantan: naik-turun tanpa aba-aba, bikin deg-degan tapi tetap diabaikan. Bedanya, kalau mantan masih bisa dilupakan, rupiah tidak. Ia menempel di setiap harga nasi goreng, bensin eceran, sampai cicilan yang diam-diam makin menyesakkan.


Setiap kali rupiah melemah, kita seperti diajak ikut lomba tarik tambang yang talinya putus di tengah. Rakyat disuruh kuat, padahal yang narik dari sana pakai sepatu lengkap dengan paku, sementara di sini cuma pakai sandal swallow yang talinya sudah disambung pakai kawat.

Lucunya, di saat ekonomi sedang megap-megap, ada satu hal yang justru tetap stabil—bahkan cenderung naik: syahwat berkuasa. Ini jenis syahwat yang tidak pernah terdampak inflasi. Tidak peduli harga cabai tembus langit, tidak peduli dolar naik seperti harga kopi kekinian, keinginan untuk tetap duduk di kursi empuk itu selalu punya energi cadangan.

Kalau rupiah melemah karena tekanan global, mungkin syahwat berkuasa menguat karena tekanan internal: takut kehilangan fasilitas, takut kehilangan panggung, dan yang paling utama, takut kembali jadi rakyat biasa—yang harus ikut antre gas melon tanpa bisa menyelak sambil bilang, “Saya kenal orang dalam.”

Kita sering mendengar istilah “daya beli masyarakat menurun.” Tapi entah kenapa, daya beli kekuasaan justru meningkat. Baliho makin banyak, janji makin tebal, dan narasi makin kreatif. Seolah-olah yang melemah itu hanya rupiah, bukan logika.

Ada semacam ironi yang berjalan santai di trotoar negeri ini. Di satu sisi, rakyat diajak hidup hemat—disuruh bijak mengatur keuangan, mengurangi nongkrong, bahkan disarankan menanam cabai sendiri. Di sisi lain, panggung politik tetap megah, penuh gemerlap, seperti pesta pernikahan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Padahal, kalau mau jujur, yang dibutuhkan rakyat itu sederhana: harga stabil, pekerjaan jelas, dan masa depan yang tidak terasa seperti undian berhadiah. Tapi mungkin kesederhanaan itu kurang menarik dibandingkan kompleksitas perebutan kursi.

Rupiah yang melemah sebenarnya bukan sekadar angka di layar bank atau berita ekonomi. Ia adalah cerita tentang daya tahan. Tentang ibu-ibu yang mulai mengurangi belanja, tentang bapak-bapak yang pura-pura tidak lapar agar anaknya bisa makan lebih banyak. Tapi cerita-cerita ini sering kalah keras dibandingkan suara mikrofon kampanye.

Dan di tengah semua itu, syahwat berkuasa tetap berlari kencang, seperti tidak pernah lelah. Ia tidak peduli kurs rupiah, tidak peduli harga sembako. Karena bagi sebagian orang, kekuasaan bukan alat untuk memperbaiki keadaan, melainkan tujuan itu sendiri.

Mungkin, yang benar-benar perlu diperkuat bukan hanya rupiah, tapi juga rasa cukup. Karena selama syahwat berkuasa lebih tinggi daripada kepedulian, kita akan terus melihat paradoks yang sama: ekonomi goyah, tapi ambisi tetap kokoh. Dan kita, seperti biasa, hanya bisa mengamati sambil berharap—semoga suatu hari nanti, yang menguat bukan hanya kurs mata uang, tapi juga akal sehat.

Salam Rp. 17.400, terburuk dalam sejarah.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update