![]() |
| Ilustrasi pembubaran nobar Pesta Babi di sejumlah daerah baru-baru ini |
Ada satu fase dalam hidup ketika saya percaya bahwa kegiatan paling aman di negeri ini adalah nonton bareng. Duduk lesehan, minum kopi sachet, makan gorengan yang minyaknya sudah dipakai sejak zaman reformasi, lalu menonton film dokumenter sambil sesekali nyeletuk, “Wah, parah juga ya.”
Ternyata saya salah. Sekarang bahkan nobar pun bisa dianggap ancaman. Saya membayangkan para peserta nobar itu awalnya datang dengan niat sederhana. Mungkin ada yang baru selesai kerja. Ada yang izin ke istrinya, “Yank, saya keluar sebentar, cuma nobar.” Ada yang sengaja mandi dulu, pakai kaos terbaiknya, berharap setelah nobar bisa lanjut nongkrong sambil bahas negara seperti pengamat politik dadakan.Lalu acara dibubarkan. Padahal mereka bukan sedang merakit bom. Mereka cuma merakit opini. Itu pun pakai proyektor pinjaman dan sound system yang kadang bunyinya kresek-kresek.
Yang lucu di negeri ini, orang sering lebih takut pada diskusi dibanding keributan. Kalau ada konser dangdut sampai jalan macet total, semua maklum. Tapi kalau ada sekelompok anak muda duduk melingkar membahas film dokumenter, mendadak suasana dianggap genting. Mungkin karena suara musik dianggap lebih aman daripada suara pikiran.
Film dokumenter memang sering punya efek samping. Setelah menonton, orang jadi banyak bertanya. Dan pertanyaan adalah barang yang kadang lebih menakutkan daripada teriakan. Sebab teriakan bisa dibungkam dengan pengeras suara lain, tapi pertanyaan biasanya menetap di kepala. Barangkali itu sebabnya nobar dianggap berbahaya.
Kita hidup di masa ketika ekspresi publik makin sering diperlakukan seperti api unggun di musim kemarau. Sedikit saja muncul kerumunan yang berpikir kritis, langsung disiram sebelum membesar. Alasannya bisa macam-macam: keamanan, ketertiban, izin, atau alasan klasik paling sakti: “situasi tidak kondusif.”
Padahal situasi memang tidak akan pernah kondusif kalau semua orang dipaksa diam. Yang menarik, pembubaran seperti ini justru membuat orang makin penasaran. Dulu mungkin yang tahu film itu cuma segelintir orang. Setelah dibubarkan, semua jadi ingin mencari link-nya. Ini seperti hukum alam internet: sesuatu yang dilarang justru otomatis promosi gratis.
Akhirnya saya paham. Di negeri ini, kadang yang lebih ditakuti bukan filmnya, tapi kemungkinan setelah menonton orang jadi berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
Kalau nobar saja mulai dianggap mengkhawatirkan, kita jadi bertanya-tanya: jangan-jangan demokrasi kita sekarang memang cuma kuat menghadapi karaoke, dangdutan atau parade sound horeg tapi lemah menghadapi percakapan. Sebab kalau layar tancap saja dibubarkan, orang jadi sulit membayangkan bagaimana nasib demonstrasi nanti.
Penulis: Robith Fahmi
