Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Standar Medsos

Jumat, Mei 08, 2026 | Mei 08, 2026 WIB Last Updated 2026-05-08T11:36:52Z

 

Ilustrasi, Doc: Satire.id

Dulu orang dinilai dari perilakunya di dunia nyata. Sekarang orang dinilai dari postingan Instagram atau tiktoknya. Bahkan kadang lebih dipercaya karena unggahan foto aesthetic di coffee shop daripada tetangga yang sudah kenal sejak kecil.


Di media sosial, hidup manusia mendadak berubah seperti etalase minimarket: semuanya disusun rapi, terang, dan penuh diskon kebahagiaan. Tidak ada yang upload foto habis dimarahi dosen pembimbing sambil makan mi instan setengah matang karena uang bulanan tinggal tiga ribu. Yang ada justru foto laptop, kopi susu, dan caption: “Work hard in silence.”

Padahal tugasnya belum dikerjakan.
Standar media sosial itu memang aneh. Orang tidak lagi dituntut menjadi bahagia, tapi terlihat bahagia. Tidak harus kaya, cukup kelihatan kaya. Tidak harus produktif, cukup upload story laptop dengan lagu Hindia di background.
Kadang saya berpikir, media sosial itu seperti hajatan. Semua orang datang memakai baju terbaik, senyum terbaik, dan wajah terbaik. Bedanya, di hajatan masih ada ibu-ibu yang jujur bilang, “Wah sampean tambah gemuk.” Kalau di media sosial semuanya pura-pura kagum sambil diam-diam membandingkan hidup.

Akibatnya, banyak orang capek mempertahankan citra. Ada yang rela kredit motor demi konten touring. Ada yang nongkrong di hotel mahal cuma pesan es teh supaya bisa update story “Healing”. Ada juga yang membeli buku hanya untuk difoto, bukan dibaca. Bukunya bersih sekali sampai seperti baru keluar dari percetakan.

Media sosial akhirnya menciptakan standar hidup yang kadang lebih berat daripada syarat pinjaman bank. Umur 25 harus sukses, umur 27 harus punya rumah, umur 30 harus punya bisnis. Kalau belum, minimal punya kutipan motivasi.

Yang lucu, standar ini dibuat oleh orang-orang yang hidupnya sendiri belum tentu stabil. Orang yang memberi nasihat finansial kadang masih nebeng wifi tetangga. Orang yang bicara self love bisa menangis hanya karena viewers TikTok turun.

Tapi begitulah media sosial bekerja. Semua orang ingin terlihat menang. Tidak ada yang mau upload foto sedang bingung membayar cicilan atau galau karena chat-nya cuma dibalas “Hehe”.

Media sosial membuat manusia berlomba menjadi versi paling sempurna dari dirinya, padahal aslinya sama-sama bingung hidup.
Yang lebih melelahkan adalah algoritma selalu memberi tahu bahwa hidup orang lain lebih menyenangkan. Baru buka HP lima menit sudah melihat teman menikah, teman liburan ke Jepang, teman buka usaha, teman beli mobil, sementara kita masih mencari charger yang hilang sejak kemarin.

Akhirnya banyak orang merasa tertinggal, padahal mungkin hanya terlalu sering membandingkan hidup asli dengan kehidupan editan. Padahal hidup nyata tidak selalu estetik. Kadang berantakan. Kadang gagal. Kadang makan di warung sambil menghitung uang receh. Dan itu normal.

Tidak semua orang harus menjadi CEO muda dengan podcast. Tidak semua orang harus punya morning rutin seperti konten YouTube luar negeri yang bangun jam lima pagi lalu jogging sambil tersenyum. Di Indonesia, bangun jam lima pagi kadang bukan demi produktivitas, tapi karena ayam tetangga berisik.

Standar media sosial juga membuat orang takut terlihat biasa saja. Padahal menjadi biasa itu tidak dosa. Tidak semua hidup harus viral. Tidak semua aktivitas harus dijadikan konten seperti peserta magang kreatif di startup.

Kadang hidup paling tenang justru milik orang-orang yang jarang upload apa-apa. Mereka makan tanpa memotret. Pergi tanpa check in. Bahagia tanpa perlu validasi.

Mungkin karena mereka sadar satu hal penting: media sosial itu tempat pamer momen, bukan ukuran nilai manusia.
Sebab kalau harga diri ditentukan oleh jumlah likes, hidup kita akan tergantung pada ibu-ibu komplek, teman SMP, dan akun anonim bergambar anime yang bahkan foto profilnya hasil screenshot.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update