Ada satu fase dalam hidup warga Lumajang yang mungkin tidak pernah diajarkan di sekolah: fase ketika keluar malam bukan lagi soal takut masuk angin, tapi takut pulang tinggal nama. Dulu orang tua melarang anaknya keluar malam karena takut “Diculik genderuwo”. Sekarang, bahkan genderuwo mungkin memilih pensiun karena kalah serem dengan begal.
Belakangan ini, cerita soal pembegalan di Kabupaten Lumajang terasa seperti pengumuman rutin. Bedanya, kalau pengumuman ronda biasanya pakai toa Masjid, kabar begal cukup lewat story WhatsApp. “Hati-hati daerah sini rawan.” “Tadi malam ada pelemparan batu.” “Motor dibawa kabur.” Kalimat-kalimat itu kini lebih akrab daripada ucapan “selamat pagi”.
Yang lebih mengherankan, modusnya juga makin kreatif. Ada yang melempar batu ke pengendara mobil supaya berhenti. Logikanya sederhana: kalau kepala bocor, korban pasti panik. Setelah mobil berhenti, tinggal dijarah. Ini kriminalitas yang konsepnya seperti gabungan antara film action murahan dan tugas kelompok anak STM yang terlalu banyak nonton sinetron kriminal.
Dan anehnya, warga sudah mulai terbiasa.
Kalau ada kabar begal, respons masyarakat sekarang bukan lagi kaget, melainkan administratif: “Daerah mana?” “Jam berapa?” “Motor apa?” “Pelakunya berapa orang?” Lengkap seperti sedang mengisi formulir bantuan sosial. Situasi ini sebenarnya lebih mengerikan daripada begalnya sendiri. Sebab ketika masyarakat mulai terbiasa dengan rasa takut, artinya ada sesuatu yang gagal bekerja. Dan sesuatu itu bernama rasa aman.
Masalahnya, polisi kita kadang lebih cepat muncul saat ada konser dangdut maupun nobar atau demonstrasi tanpa izin daripada ketika warga dilempari batu di jalan sepi. Sirene mobil patroli lebih sering terdengar saat ada razia knalpot brong ketimbang ketika orang pulang kerja harus memegang stang motor sambil membaca doa qunut.
Padahal masyarakat tidak butuh konferensi pers dengan meja penuh barang bukti dan pelaku yang kepalanya ditundukkan sambil pakai baju tahanan oranye. Masyarakat cuma ingin pulang dengan selamat. Sesederhana itu. Lucunya lagi, setiap ada kejadian begal, nasihat yang muncul selalu sama: “Jangan keluar malam.” “Kalau bisa jangan lewat jalan sepi.” “Simpan HP.”
Lama-lama solusi keamanan di negeri ini mirip tips bertahan hidup di hutan. Yang disuruh menyesuaikan justru korban, bukan pelaku kejahatan yang diburu habis-habisan. Kalau begini terus, jangan salahkan warga kalau suatu hari lebih percaya pada grup ronda WhatsApp daripada patroli kepolisian. Karena di banyak tempat, rasa aman kini diproduksi swadaya oleh masyarakat sendiri.
Portal ditutup, ronda digiatkan, pemuda kampung begadang sambil ngopi dan memegang pentungan bambu. Negara seperti hadir, tapi tipis. Tipis sekali.
Ironisnya, kita hidup di zaman ketika CCTV ada di mana-mana, tetapi begal masih bebas berkeliaran seperti peserta touring. Jalan-jalan dipenuhi slogan keamanan, tetapi warga tetap merasa seperti sedang jadi figuran film thriller tiap kali melewati jalur gelap.
Tentu polisi tidak bisa bekerja sendiri. Tapi masyarakat juga berhak bertanya: sebenarnya aparat kita kalah jumlah, kalah strategi, atau memang kalah niat? Sebab kalau warga sampai harus memilih antara tidak keluar malam atau pulang dengan risiko dibegal, maka yang sedang lumpuh bukan cuma keamanan. Kepercayaan masyarakat juga ikut sekarat pelan-pelan.
Dan ketika rasa percaya itu hilang, aparat tidak lagi terlihat sebagai pelindung. Mereka hanya akan tampak seperti lampu rotator: menyala, berisik, tapi tidak selalu membuat keadaan jadi aman.
Penulis: Robith Fahmi
