Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hutan Papua Tinggal Cerita

Jumat, Mei 15, 2026 | Mei 15, 2026 WIB Last Updated 2026-05-15T10:49:35Z

 

Ilustrasi rusaknya hutan Papua, Doc: Satire.id

Dulu waktu kecil, kalau mendengar kata Papua, yang terbayang di kepala saya bukan tambang, bukan investasi, bukan hilirisasi, apalagi food estate. Yang muncul justru hutan. Hutan lebat yang kalau dipotret dari atas warnanya hijau tua seperti karpet raksasa. Hutan yang di film-film dokumenter selalu digambarkan penuh burung cenderawasih, sungai bening, kabut pagi, dan orang-orang yang hidup berdampingan dengan alam.


Papua dulu seperti halaman belakang bumi yang masih waras. Sekarang, halaman itu mulai dipagari. Ada jalan besar masuk ke tengah hutan. Ada alat berat. Ada suara gergaji. Ada perusahaan datang membawa peta dan izin. Ada tanah adat yang tiba-tiba berubah status menjadi kawasan industri. Lalu pelan-pelan pohon tumbang satu per satu, seperti domino yang didorong atas nama pembangunan.

Ironisnya, kerusakan hutan sering dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar keren. Hilirisasi. Investasi strategis nasional. Ketahanan pangan. Transisi energi. Kata-kata yang kalau dibaca di seminar terasa canggih, tetapi kalau dilihat langsung di lapangan sering cuma berarti satu hal: hutan dibuka, masyarakat disingkirkan.

Papua memang jauh. Mungkin itu sebabnya kerusakannya terasa tidak terlalu mengganggu bagi sebagian orang. Coba kalau hutan yang dibabat itu ada di tengah Jakarta. Baru dua pohon ditebang sudah ramai tagar penyelamatan lingkungan. Tapi karena ini Papua, banyak orang menganggapnya seperti ruang kosong yang bebas diwarnai sesuka hati.

Padahal bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah supermarket, apotek, sekolah, rumah ibadah, sekaligus tempat sejarah keluarga mereka disimpan. Ada marga yang hidup dari satu kawasan hutan turun-temurun. Ada sungai yang dianggap sakral. Ada pohon yang bahkan namanya diwariskan dari leluhur. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan cuma oksigen, tapi juga identitas.

Yang menyedihkan, kita sering baru ribut ketika bencana datang. Saat banjir bandang menerjang, kita bilang ini cuaca ekstrem. Ketika longsor datang, kita menyebutnya musibah alam. Padahal sering kali alam cuma sedang mengirim kuitansi atas kerusakan yang kita lakukan bertahun-tahun.

Papua sekarang seperti orang kaya yang dipaksa menjual isi rumahnya sedikit demi sedikit. Awalnya kayu. Lalu tambang. Setelah itu tanah. Ketika semua habis, yang tersisa tinggal cerita tentang betapa indahnya hutan dulu. Dan kita orang Indonesia punya bakat aneh: paling rajin mengenang sesuatu setelah rusak.

Kita suka bilang, “Dulu sungainya jernih.”
“Dulu hutannya lebat.” “Dulu banyak burung.”
Kata “Dulu” itu sebenarnya tanda bahwa kita gagal menjaga. Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak hanya akan mengenal hutan Papua lewat gambar di buku sekolah. Guru menjelaskan tentang cenderawasih sambil menunjukkan foto karena burungnya sendiri sudah sulit ditemukan.

Orang datang ke museum melihat replika pohon besar sambil berkata, “Oh, ternyata Indonesia pernah punya hutan seperti ini.” Saat itulah kita sadar bahwa kemajuan ternyata tidak selalu berarti kemenangan. Sebab ada pembangunan yang tumbuh dari penghancuran. Dan ada negara yang terlalu sibuk menghitung nilai investasi sampai lupa menghitung berapa banyak pohon terakhir yang tersisa.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update