Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Uang Mengendap di Danantara

Selasa, Mei 12, 2026 | Mei 12, 2026 WIB Last Updated 2026-05-12T03:09:46Z

 

Ilustrasi, Doc: Satire.id

Ada satu penyakit lama di negeri ini yang sulit sekali disembuhkan: terlalu percaya bahwa semua masalah selesai kalau dibentuk lembaga baru. Harga cabai naik, bikin satgas. Mafia tanah merajalela, bikin tim khusus. Anak muda susah kerja, bikin program dengan nama yang terdengar futuristik. Sekarang giliran uang negara yang dianggap perlu “Dicarikan rumah baru”, lalu lahirlah Danantara.


Namanya keren. Terdengar seperti gabungan perusahaan investasi global dengan organisasi di film science fiction. Orang yang mendengarnya sekilas mungkin mengira ini startup teknologi yang kantornya penuh kopi gratis. Padahal yang dikelola bukan uang investor luar, melainkan aset negara yang nilainya bikin rakyat kecil langsung refleks bilang, “Itu nolnya berapa?”

Katanya dana negara jangan cuma diam. Jangan mengendap. Harus diputar. Harus produktif. Harus menghasilkan keuntungan jangka panjang. Kalimatnya terdengar masuk akal. Memang benar, uang kalau cuma tidur di rekening ya tidak berkembang. Tapi masalah di negeri ini sering kali bukan soal uangnya diam, melainkan yang bergerak justru orang-orang di sekitar uang itu.

Kita punya sejarah panjang soal proyek ambisius yang dimulai dengan presentasi meyakinkan lalu berakhir dengan kalimat, “Sedang dievaluasi.” Dari luar terlihat modern, dari dalam ternyata rapuh. Proposalnya tebal, pengawasannya tipis. Semangat investasinya tinggi, transparansinya kadang malu-malu muncul.

Segepok persoalan itu seringkali diabaikan, mengejar target besar lantas melupakan tujuan utamanya yaitu rakyat. Disadari atau tidak, dampak dari mengendapnya anggaran negara di Danantara, perputaran uang dibawah kian kecil, ekonomi lesu, tetangga bilang bahwa hari ini tidak perlu lari supaya ngos-ngosan, belum lagi diterjang MBG yang bikin semua harga naik dan KDMP yang tidak jelas itu.

Danantara dipromosikan seperti jalan baru menuju Indonesia maju. Aset negara dikonsolidasikan, dividen BUMN dioptimalkan, investasi strategis dipercepat. Semua terdengar megah. Persoalannya, rakyat sudah terlalu sering mendengar bahasa megah. Kita hidup di negara yang pidato ekonominya kadang lebih maju daripada kondisi ekonominya sendiri.

Orang kecil sebenarnya tidak terlalu peduli istilah konsolidasi aset, atau optimalisasi investasi. Yang mereka pahami sederhana: kalau uang negara besar, kenapa sekolah masih bocor? Kalau negara untung, kenapa petani tetap buntung? Kalau investasi meningkat, kenapa sarjana masih rebutan lowongan admin dengan syarat “Berpenampilan menarik”?

Kecurigaan publik bukan muncul tanpa alasan. Di negeri ini, uang yang terlalu banyak sering mengundang dua hal: rapat dan rebutan. Maka ketika ada lembaga baru dengan kuasa mengelola aset raksasa, masyarakat otomatis waspada. Takut uang yang katanya diputar demi masa depan justru berputar-putar di lingkaran elite yang itu-itu saja.

Padahal inti persoalannya bukan pada besar kecilnya dana, tetapi pada watak pengelolanya. Uang negara itu seperti titipan tetangga. Jumlahnya mungkin besar, tapi tetap bukan milik pribadi. Harus ada rasa takut ketika mengelolanya. Takut salah. Takut merugikan rakyat. Takut suatu hari anak cucu membaca berita lama lalu bertanya, “Kok dulu bisa-bisanya negara dikelola seperti ini?”

Danantara bisa saja berhasil. Tidak ada yang mustahil. Tapi keberhasilan tidak lahir dari slogan futuristik dan logo elegan. Ia lahir dari transparansi, pengawasan ketat, dan keberanian menolak titipan kepentingan. Sebab di negeri ini, uang yang mengendap kadang memang berbahaya. Tapi lebih berbahaya lagi kalau uang bergerak tanpa arah, tanpa kontrol, dan tanpa rasa malu.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update