Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Orang Desa Tidak Pakai Dollar, Logika Gemblung

Sabtu, Mei 16, 2026 | Mei 16, 2026 WIB Last Updated 2026-05-16T12:28:39Z

 


Pidato itu meluncur dengan tenang. Kalimatnya pendek, sederhana, terdengar merakyat: rupiah melemah tidak masalah, wong orang desa tidak pakai dollar.


Saya membayangkan ada bapak-bapak di desa sedang ngopi di gardu sambil mengangguk pelan. Bukan karena paham ekonomi makro, tapi karena bingung mau membantah dari sisi mana. Soalnya logika model begini itu seperti bilang:

“Tidak usah takut atap bocor, wong yang kehujanan cuma bagian depan rumah.”
Masalahnya, ekonomi itu tidak bekerja seperti grup arisan RT. Orang desa memang tidak belanja pakai dollar. Tukang bakso di kampung tidak menerima pembayaran USD. Penjual gorengan di pasar juga tidak pasang tulisan terima dollar and euro. Tapi harga pupuk, BBM, kedelai, gandum, pakan ternak, sampai obat-obatan banyak yang terhubung dengan kurs dollar. Ketika rupiah melemah, yang menjerit pertama justru orang-orang yang tidak pernah pegang dollar itu.

Petani mungkin tidak tahu kurs hari ini tembus berapa. Tapi mereka tahu harga pupuk naik. Nelayan mungkin tidak pernah buka aplikasi trading. Tapi mereka tahu solar makin bikin kepala cenat-cenut. Ibu-ibu desa mungkin tidak mengerti istilah depresiasi mata uang, tapi mereka tahu harga minyak goreng tiba-tiba naik seribu-dua ribu dengan gaya yang sangat kurang ajar.

Ekonomi memang lucu. Orang yang tidak pernah melihat dollar bisa tetap jadi korban dollar.
Kalau logikanya begini, sekalian saja bilang inflasi tidak masalah karena rakyat kecil tidak pernah baca grafik inflasi. Atau utang negara aman karena warga kampung tidak pernah ikut rapat Bank Indonesia. Lama-lama semua persoalan selesai hanya dengan cara tidak dibahas.

Ini khas logika pejabat yang terlalu lama hidup di dalam pagar kekuasaan. Mereka mengira kenyataan itu ditentukan oleh pidato. Seolah kalau presiden bilang “Aman”, maka harga cabai otomatis turun sendiri karena mendengar wejangan kenegaraan.

Padahal rakyat desa itu mungkin tidak sekolah ekonomi, tapi mereka hafal satu ilmu yang paling penting: kalau rupiah melemah, hidup makin susah. Dan rakyat kecil selalu jadi manusia pertama yang dipaksa beradaptasi. Gaji tetap, harga naik. Pendapatan seret, kebutuhan tidak bisa diet. Yang kaya masih bisa pindah investasi. Yang miskin cuma bisa pindah ukuran beras: dari 10 kilo ke 5 kilo.

Kadang saya merasa negeri ini terlalu sering dipimpin oleh optimisme yang dipaksakan. Semua harus terdengar tenang meski dapur rakyat mulai gosong. Semua harus terlihat baik-baik saja meski dompet masyarakat mulai megap-megap.

Kalimat “Orang desa tidak pakai dollar” mungkin dimaksudkan untuk menenangkan publik. Tapi yang terdengar justru seperti candaan bapak-bapak Facebook yang baru menemukan teori ekonomi setelah tiga gelas kopi hitam.
Sebab kenyataan tidak peduli apakah kita tinggal di kota atau desa. Ketika rupiah melemah, efeknya merembes ke mana-mana.

Sampai ke warung kecil, sampai ke sawah, sampai ke dapur rumah rakyat yang tiap malam harus menghitung ulang apakah besok masih bisa beli telur. Jadi benar, orang desa memang tidak pakai dollar. Tapi hidup mereka tetap dibayar dengan mahalnya dampak dollar. Orang yang pernah tinggal di Yordania tidak akan paham soal ini sebab kekayaannya bikin jiwa miskin meronta ronta.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update