![]() |
| Ilustrasi, Doc: Satire.id |
Media sosial hari ini memang aneh. Banyak orang ingin terlihat pintar, tapi malas berpikir. Ingin terlihat berkelas, tapi obrolannya sebatas “Cowok mapan”, “Mobil apa?”, “Gajinya berapa?”, “Punya rumah belum?”. Seolah hidup cuma seleksi alam versi cicilan.
Tidak sedikit perempuan yang memasang standar tinggi soal materi, tapi ketika diajak ngobrol malah seperti sinyal WiFi di cafe penuh pengunjung. Nyambungnya susah. Ditanya soal isu sosial jawabnya, “Aku nggak suka bahas yang berat-berat.” Ditanya buku terakhir yang dibaca, jawabnya caption Instagram. Ditanya pendapat tentang apa pun, jawabnya cuma, “Terserah kamu aja.”
Di salah satu chanel podcast, hostnya bernama Kukuh mendatangkan konten kreator yang selalu tampil seksi di medsos, hampir semua unggahan di akun medsosnya memamerkan tubuhnya dengan pakaian setengah telanjang. Tapi, saat podcast berlangsung, netizen tersadar bahwa otak si konten kreator kosong, Ia dibuat terlihat bodoh oleh Kukuh meski dengan pertanyaan sederhana.
Lucunya, banyak yang merasa keseksian tubuh sudah cukup menjadi modal utama. Feed Instagram penuh pose estetik, angle kamera dipelajari serius, filter dipilih berjam-jam, tapi isi kepala dibiarkan kosong seperti grup WhatsApp alumni setelah pemilu selesai.
Padahal tubuh yang menarik itu bonus. Yang membuat orang betah adalah isi kepala. Sebab keseksian fisik ada masa kedaluwarsanya, sedangkan kecerdasan membuat seseorang tetap menarik bahkan ketika usia mulai menua. Orang bisa kagum karena wajah selama lima menit, tapi bertahan karena obrolan selama bertahun-tahun.
Masalahnya sekarang, sebagian orang lebih sibuk membangun citra dibanding membangun kapasitas. Ingin pasangan kaya, tapi dirinya sendiri tidak punya kualitas selain modal selfie dan validasi. Maunya diajak makan di restoran mahal, tapi tidak bisa diajak diskusi selain topik skincare dan gosip TikTok.
Ini bukan soal perempuan harus menjadi profesor atau aktivis. Tidak. Minimal ketika diajak bicara, ada sesuatu yang hidup di kepalanya. Ada rasa ingin tahu. Ada sudut pandang. Ada kemampuan memahami dunia lebih luas daripada sekadar “Cowok green flag adalah yang mau traktir.”
Karena hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dengan tubuh seksi dan saldo rekening. Kalau dua orang hidup bersama bertahun-tahun, yang diuji bukan lagi bentuk badan, tapi isi pikiran. Sebab pada akhirnya, percakapanlah yang menjaga hubungan tetap hidup ketika wajah mulai biasa dan euforia mulai reda.
Ironisnya, banyak orang ingin pasangan mapan, cerdas, dewasa, luas wawasannya, tapi dirinya sendiri malas berkembang. Ingin diperlakukan seperti ratu, tapi kualitas ngobrol saja kalah dengan podcast random tengah malam.
Mungkin itu sebabnya banyak hubungan sekarang cepat bosan. Karena setelah fase kagum fisik selesai, ternyata tidak ada yang bisa dibicarakan selain, “Lagi apa?” dan “Udah makan belum?”.
Penulis: Robith Fahmi
