Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Prabowo Tegas Saat Pidato

Rabu, Mei 20, 2026 | Mei 20, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T13:55:41Z

 

Di negeri ini, ketegasan tampaknya lebih mudah ditemukan di Podium daripada di lapangan. Mikrofon menjadi senjata paling ampuh, sementara realitas di bawah sana tetap berjalan seperti sinetron yang episodenya diputar ulang tiap malam. Dan Prabowo, entah kenapa, terlihat sangat perkasa ketika berdiri di depan kamera. Nada suara naik turun. Tangan mengepal. Kalimat-kalimat patriotik beterbangan seperti trailer film perang yang mahal produksinya.


Sayangnya, setelah pidato selesai, rakyat kembali bertemu dengan kenyataan pahit harga kebutuhan yang tetap galak, korupsi yang tetap santai, dan aparat yang kadang lebih cepat menangkap spanduk daripada maling.

Memang luar biasa kekuatan pidato di negeri ini. Seolah-olah masalah bangsa bisa selesai hanya dengan intonasi tegas dan tatapan mata tajam. Barangkali inflasi takut pada pengeras suara. Atau mungkin mafia impor gemetar hanya karena mendengar kata “Saya perintahkan!” meski setelah itu tidak terjadi apa-apa selain tepuk tangan kader dan potongan video TikTok berdurasi satu menit.

Prabowo sebenarnya punya modal yang kuat untuk terlihat sebagai pemimpin keras. Gesturnya mendukung. Cara bicaranya mendukung. Bahkan latar belakang militernya membuat publik berharap ada keberanian besar untuk membabat kekacauan birokrasi dan para pemain lama yang selama ini menjadikan negara seperti koperasi keluarga. Namun, semakin lama yang terlihat justru ketegasan seremonial. Tegas di pidato, lunak di kenyataan.

Rakyat kecil sekarang sudah terlalu kenyang janji untuk mudah kagum. Mereka tidak lagi membutuhkan pemimpin yang pandai marah di depan podium. Karena emak-emak di pasar juga bisa marah ketika cabai naik. Bedanya, emak-emak benar-benar menyelesaikan masalah: kalau perlu mengganti menu dapur. Sementara negara sering kali hanya mengganti slogan.

Lucunya lagi, setiap kritik kepada pemerintah sekarang dianggap gangguan stabilitas dan antek asing. Padahal stabilitas macam apa yang dimaksud? Harga naik, pekerjaan sulit, pajak dikejar, tapi pejabat tetap bisa tersenyum di acara-acara resmi sambil bicara pengorbanan rakyat demi masa depan bangsa. Masa depan yang entah selalu dijadwalkan datang lima tahun lagi.

Prabowo terlihat seperti tokoh utama film aksi yang trailernya diputar terus-menerus, tetapi filmnya sendiri tidak pernah tayang penuh. Publik disuguhi cuplikan keberanian, potongan ketegasan, dan musik nasionalisme yang menggelegar. Tapi setelah lampu kamera mati, semuanya kembali biasa saja.

Mungkin memang beginilah politik modern bekerja. Ketegasan tidak lagi diukur dari kebijakan nyata, melainkan dari seberapa viral potongan pidato di media sosial. Yang penting suara berat, meja diketuk, lalu netizen berkomentar, “Nah ini pemimpin tegas!”

Padahal negara tidak butuh aktor podium. Negara butuh pemimpin yang berani membuat keputusan tidak populer demi rakyat, bukan demi tepuk tangan. Sebab sejarah tidak mencatat seberapa keras suara seorang presiden saat pidato. Sejarah hanya mencatat: apa yang benar-benar berubah ketika ia berkuasa.

Penulis: Robith Fahmi
×
Berita Terbaru Update